bahaya kehamilan usia remaja

Bahaya Kehamilan di Usia Remaja

Posted on April 29th, 2009 in Kesehatan

Oleh : Surani. W

MENURUT WHO (World Health Organization) risiko kematian pada persalinan usia remaja kurang dari 19 tahun, dua kali lipat dari risiko melahirkan di usia lebih dari 20 tahun. Angka risiko kematian pada persalinan ini akan menjadi 5 kali lebih tinggi bila melahirkan di usia antara 10 sampai 15 tahun.

Dokter spesialis kandungan dan kebidanan Rumah Sakit Husada Balikpapan (RSHB) Ahmad Yasa, Sp.OG mengatakan, kehamilan remaja termasuk kehamilan risiko tinggi, yang akan meningkatkan kesakitan dan kematian ibu maupun janinnya. Semakin muda usia ibu yang sedang hamil, maka risiko yang dihadapi akan menjadi semakin besar.

Menurutnya, penyulit yang terjadi selama kehamilan dan persalinan pada kehamilan remaja lebih besar dibandingkan dengan kehamilan usia lebih 20 tahun.

Dijelaskan, adapun beberapa komplikasi yang sering timbul pada kehamilan remaja antara lain adalah terjadinya “keracunan” kehamilan atau biasa disebut eklampsia, yang ditandai tekanan darah tinggi dan kejang, perdarahan pada saat atau sesudah persalinan, persalinan macet yang akhirnya menjalani operasi sesar, bayi berat badan lahir rendah (BBLR), cacat pada janin, dan infeksi.

“Semua komplikasi di atas berisiko menyebabkan kematian pada ibu maupun kematian pada bayi,” sebut pria yang akrab disapa dr Yasa ini.

Lebih lanjut dijelaskan, risiko komplikasi kehamilan dan komplikasi persalian akan semakin tinggi seiring semakin mudanya usia seorang remaja. Risiko komplikasi tertinggi akan terjadi pada kehamilan remaja di usia 20 tahun ke bawah, karena rongga panggul belum tumbuh mencapai ukuran dewasa, belum berkembang matang sehingga rongga panggulnya sangat sempit.

“Hal ini menyebabkan persalinan macet, sehingga ketika melahirkan, rongga panggulnya tidak bisa dilalui oleh kepala bayi yang normalnya berdiamater antara 9-10 cm. Bila demikian, maka persalinan harus melalui operasi sesar,” ucapnya.

Yasa mengatakan, menurut beberapa penelitian, kehamilan usia remaja, di samping berdampak buruk terhadap kesehatan, juga berdampak terhadap sosial ekonomi dan psikologi. Tidak sedikit wanita pascapersalinan yang mengalami depresi.

Di samping itu juga dikatakan, wanita yang menikah di usia muda atau berhubungan seks pertama kali di usia kurang dari 19 tahun juga akan berisiko menderita kanker leher rahim.

”Penyakit kanker leher rahim adalah penyebab kematian tertinggi pada kaum wanita di Indonesia. Tetapi ini bukan berarti semua wanita yang menikah dan kemudian hamil sebelum berumur 19 tahun, pasti menderita kanker leher rahim. Namun riset membuktikan bahwa risiko menderita kanker leher rahim peluangnya sangat tinggi bila seorang wanita melakukan hubungan seks pertama lalu hamil di usia kurang dari 19 tahun,” terangnya.

Nah, bagi wanita remaja yang sudah terlanjur menikah di usia remaja, disarankan untuk melakukan pencegahan terhadap kanker leher rahim, yakni dengan pemberian vaksin antikanker rahim. Di samping itu, perlu pula melakukan pemeriksaan deteksi dini kanker leher rahim (Pap Smear), setidaknya setelah 3 tahun menikah atau 3 tahun setelah hubungan seksual pertama kali.

“Kemudian juga menunda kehamilan hingga usia 19 tahun, dengan cara menggunakan alat kontrasepsi atau keluarga berencana (KB),” tandasnya.(dha)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar